KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

By STEPANUS SARJI, S.Pd. CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung

 

Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik. “Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best”. Mengajari anak-anak berhitung itu tak apa-apa, namun mengajari mereka apa yang penting itulah yang terbaik.  Artinya, bahwa memberikan pemahaman kepada anak tentang konsekuensi dari sebuah pilihan merupakan hal yang benar, namun membakali mereka dengan pengetahuan tentang hal baik dan buruk adalah sesuatu yang substansi. Sekolah bukan hanya untuk memperoleh nilai-nilai akademis saja  akan tetapi lebih pada nilai-nilai untuk kehidupan. Bahwa pengetahuan/knowledge saja tidak cukup, murid juga harus dibekali dengan pendidikan karakter.

 

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran yang penting dalam menumbuhkembangkan  segala potensi peserta didik. Sekolah adalah tempat memanusiakan manusia muda dengan segala kodrat yang dimikinya sebagai ciptaan yang paling sempurna. Pendidikan hendaknya  dapat menuntun dan memerdekakan anak didik. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua sumber daya, yang meliputi jiwa, yaitu cipta,karsa dan karya secara seimbang. Untuk itu, sebagai seorang pendidik kita diingatkan dan diajak mereflesikan kembali filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara , Bapak Pendidikan Indonesia  sekaligus  Pahlawan Pendidikan Nasional. Sebagai guru penggerak kita diharapkan dapat menjadi agen perubahan dengan mentransformasikan pemikiran-pemikiran beliau di sekolah.

 

Berbagai pemikiran pendidikan beliau masih sangat relevan hingga saat ini, yang diantaranya adalah sistem among, tri pusat pendidikan, konsep kodrat alam dan kodrat zaman, konsep pendidikan budi pekerti atau karakter, asas trikon, dan tiga prinsip/semboyan pendidikan. Asas trikon terdiri dari kontinyu, konvergen dan konsentris. Kontinyu artinya pengembangan yang dilakukan harus berkesinambungan, dilakukan secara terus-menerus dengan perencanaan yang baik. Suatu kondisi yang baik tidak mungkin dapat dicapai dalam sekali waktu seperti sebuah sulap. Tahap demi tahap pengembangan dilakukan dengan rencana yang matang. Dengan perencanaan tersebut maka suatu tahap dilanjutkan oleh tahap berikutnya dengan melalui evaluasi dan perbaikan yang tepat. Konvergen artinya pengembangan yang dilakukan dapat mengambil dari berbagai sumber di luar, bahkan dari praktik pendidikan di luar negeri. Seperti yang dilakukan oleh Ki Hadjar ketika mempelajari berbagai praktik pendidikan dunia misalnya Maria Montessori, Froebel dan Rabindranath Tagore. Praktik-praktik tesebut dapat kita pelajari untuk nantinya disesuaikan dengan kebutuhan yang kita miliki sendiri. Konsentris artinya pengembangan pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan kepribadian kita sendiri. Tujuan utama pendidikan adalah menuntun tumbuh kembang anak secara maksimal sesuai dengan karakter kebudayaannya sendiri.

 

Tiga prinsip kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.Semboyan ini masih sangat relevan dijadikan tuntunan bagaimana guru mengambil peran bagi anak didik. Ketika di depan (ing ngarso) guru adalah teladan atau panutan. Ia digugu(dihormati) dan ditiru. Maka guru sebagai pemimpin,memberi contoh dalam perilaku, memperhatikan dan mengayomi anak didiknya. Saat beradadi tengah (ing madyo), ia membangun, menggugah semangat. Sebagaimana karso bisa diartikan semangat. Kala berada di belakng, ia memberikan dukungan.

Tiga prinsip kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, yakni ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani  memiliki pengaruh yang besar terhadap bagaimana sebuah keputusan diambil sebagai pemimpin pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut guru sebagai pemimpin pembelajaran seyogyanya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip resolusi, dan 9 langkah pengambilan keputusan dengan berpegang teguh pada prinsip atau filosofi pratap triloka. Dimana ketiga nilai yaitu sebagai teladan, sebagai motivator, pemberi dukungan yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang pemimpin pembelajaran maka akan memberikan dasar yang baik dalam pengambilan keputusan , nilai-nilai tersebut yang ada dalam pemimpin pembelajaran akan mampu menghasilkan pengambilan keputusan yang tepat, bertanggungjawab dan berpihak pada kepentingan murid.

 

Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya, oleh sebab itu peran seorang pendidik atau coach adalah menuntun segala kekuatan kodrat/potensi agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong tetap memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Coaching menjadi salah satu proses menuntun kemerdekaan belajar anak didik dalam pembelajaran di sekolah. Proses coaching dapat mengaktivasi kerja otak anak didik. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat anak melakukan metakognisi, berfikir secara kritis dan medalam yang pada akhirnya dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.Pengembangan diri anak didik dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Secara umum proses coaching merupakan kegiatan kemitraan antara coach dan coachee yang membantu coachee untuk membuat keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi.

 

TIRTA sebagai model coaching dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model.GROW kepanjangan dari Goal, Reality, Options, dan Will. Goal (tujuan) coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai oleh coachee dari coaching ini. Reality(hal-hal nyata) merupakan proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee. Options (pilihan), coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (keinginan untuk maju), komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru memiliki keterampilan coaching. TIRTA merupakan akronim dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggungjawab. Tahap-demi tahap proses coaching dari segi tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi dan tanggungjawab berisi pertanyaan reflektif, terbuka dan efektif yang bisa menggali potensi coachee pada proses pengambilan keputusan, terutama 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan bisa dijadikan sebagai panduan coach untuk mengarahkan coachee pada pengambilan keputusan yang efektif .

 

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, tentu sering dihadapkan pada kasus-kasus tertentu yang menuntut adanya pengambilan keputusan. Keputusan-keputusan tesebut sering melibatkan kepentingan banyak orang atau banyak pihak. Tidak semua keputusan sulit merupakan situasi dilema etika namun ada kalanya lebih pada bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih dua pilihan dimana kedua plihan tersebut secara moral benar tetapi saling bertentangan. Sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus mengabil keputusan antara benar dan salah. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran hendaknya dapat mengambil keputusan secara efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian apakah dalam pengambilan keputusan telah sesuai dengan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang sesuai dengan etika. Apabila kasus yang kita hadapi merupakan situasi dilema etika, maka dapat menerapkan 9 langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang di dalamnya terdapat 4 pradigma, dan 3 prinsip resolusi. Adapun langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai berikut:

1)      Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2)      Menentukan siapa saja yang terlibat dalam situasi ini

3)      Mengumpuklan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4)      Pengujian benar atau salah, yang meliputi:

a.       Uji Legal

b.      Uji Regulasi/Standar Profesional

c.       Uji Intuisi

d.      Uji Depan Halaman Koran/uUji Publikasi

e.       Uji Panutan/Idola

5)      Pengujian 4 paradigma Benar lawan Benar

a.       Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c.       Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d.      Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6)      Melakukan 3 Prinsip Resolusi

a.       Berpikir Berbasis Hasil (Ends Based Thinking)

b.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thinking)

c.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care Based Thinking)

7)      Invertigasi Trilema

8)      Buat Keputusan

9)      Lihat Kembali  Keputusan dan Reflesikan

 

Lingkungan sekolah yang kondusif akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam belajar, sebagai salah satu cerminan dari sekolah yang berpihak pada murid serta berorientasi pada konsep ‘Merdeka Belajar’. Saya meyakini bahwa ketika pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang guru sudah melalui tahapan dalam 9 langkah pengambilan keputusan, maka sejatinya keputusan tersebut adalah keputusan yang berpihak pada murid. Esensi pendidikan KHD adalah ‘menghamba pada murid’, ini dapat dijadikan pijakan bagi seorang guru dalam menganalisa setiap permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran.

Tidak semua kesalahan yang dilakukan oleh murid apalagi jika itu mengandung pelanggaran peraturan adalah murni kesengajaan. Dalam uji intuisi, naluri kemanusiaan kita yang akan membuka ruang untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga apapun itu pelanggarannya, selalu ada kebijakan di atasnya. Inilah yang menjadi esensi dari kepemimpinan itu sendiri. Bahwa di atas peraturan, masih ada kebijakan, dan kebijakan lahir dari olah pikir atau prinsip berpikir seorang pemimpin.

 

Selain melalui tahapan uji sebelum sampai pada keputusan akhir, kita juga masih bisa mengubah keputusan tersebut jika ternyata ada opsi pilihan lainnya yang kita temukan tanpa sengaja atau dari hasil berpikir kreatif, yang disebut investigasi opsi trilema. Sehingga seorang guru, jika dihadapkan pada dilemma mengambil keputusan sekalipun, masih dapat memilih opsi ketiga. Semakin banyak opsi pilihan pada sebuah kasus maka akan semakin memudahkan kita dalam menentukan keputusan akhir, yang peluangnya besar mampu memberi dampak yang baik, serta mampu mendukung efektivitas proses pembelajaran di sekolah. Pada akhirnya juga akan berpengaruh terhadap hasil akhir atau capaian murid di sekolah.

 

Koneksi antar materi  modul ini dengan modul sebelumnya,adalah:

·          Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya, oleh sebab itu peran seorang pendidik atau coach adalah menuntun segala kekuatan kodrat/potensi agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong tetap memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

 

·         Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik. “Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best”. Mengajari anak-anak berhitung itu tak apa-apa, namun mengajari mereka apa yang penting itulah yang terbaik.  Artinya, bahwa memberikan pemahaman kepada anak tentang konsekuensi dari sebuah pilihan merupakan hal yang benar, namun membakali mereka dengan pengetahuan tentang hal baik dan buruk adalah sesuatu yang substansi.

 

·         TIRTA sebagai model coaching dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru memiliki keterampilan coaching. Tahapan coaching dari segi tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi dan tanggungjawab berisi pertanyaan reflektif, terbuka dan efektif yang bisa menggali potensi coachee pada proses pengambilan keputusan, terutama 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan bisa dijadikan sebagai panduan coach untuk mengarahkan coachee pada pengambilan keputusan yang efektif.

 

·         Apabila kasus yang dihadapi merupakan situasi dilema etika, maka dapat menerapkan 9 langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang di dalamnya terdapat 4 pradigma, dan 3 prinsip resolusi

 

·         Lingkungan sekolah yang kondusif akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam belajar, sebagai salah satu cerminan dari sekolah yang berpihak pada murid serta berorientasi pada konsep ‘Merdeka Belajar.’ Pengambilan keputusan yang dilakukan melalui tahapan dalam 9 langkah pengambilan keputusan, maka sejatinya keputusan tersebut adalah keputusan yang berpihak pada murid.

 

 

Komentar